Menikmati Liburan Sambil Bermain dan Belajar di Caping Park

www.travelingku.net
Hallo, Sobat Traveling. Jumpa lagi dengan saya di blog ini. Maaf jarang update di blog yang satu ini karena biasanya nongkrong di www.erycorners.com. Tapi beberapa bulan terakhir ini memang saya jarang update sih. Nah, ini mulai mencoba kembali untuk mengaktifkan blog. Semoga bisa menjadi referensi teman-teman yang ingin liburan.

www.travelingku.net
Petunjuk arah, ke kiri Jembatan Kaca, ke kanan menuju miniatur balon udara, taman dan lainnya

www.travelingku.net
Ke Caping Park kurang afdol kalau tidak makai capingnya

Dan cerita kali ini tentang tempat wisata yang cukup hits di wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Yakni Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Usianya juga baru mau menginjak angka 2. Karena tempat ini baru diresmikan atau melakukan grand opening pada tanggal 01 Juni 2018. Ada yang sudah menebaknya di dalam hatikah? Tempat ini merupakan terletak di dataran tinggi lho. Dari tempat ini bisa melihat kawasan kota Purwokerto dari atas. Sangat pas untuk menghilangkan penat dan jenuh setelah beraktvitas seharian. Okay, tempat ini bernama Caping Park.

www.travelingku.net
Grand Opening Caping Park, 01 Juni 2018


www.travelingku.net
View Kota Purwokerto dari ketinggian

Caping Park Tempat Wisata dan Edukasi
Terletak di Dusun II, Desa Kebumen, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Di tempat yang nyaman dengan pemandangan yang sudah cantik dari dulu. Lokasi ini disulap menjadi sebuah tempat wisata dan edukasi bagi anak-anak. Waktu itu kami beremepat yaitu saya, Mas Bangkit, Alfi dan Syarah berkesempatan untuk menikmati sore yang indah di Caping Park. Tujuan yang paling utama tentu ke bagian yang paling hits, yaitu Jembatan Kaca. Di sini kami mengantri agar bisa foto di jembatan yang panjangnya kurang lebih 20 meter dan terbuat dari kaca.

www.travelingku.net
Jalan di atas kaca itu rasnya...

Bagi yang takut ketinggian memang ngeri kalau jalan di sini. Terlebih ketika melihat ke bagian bawah, sudah pasti bakalan takut karena seperti berjalan di awang-awang. Tapi, tidak perlu khawatir, kacanya tebal dan jembatannya juga dibuat kokoh, sehingga aman. Namun begitu, untuk lebih aman dan terkendali. Pengunjung yang masuk ke Jembatan Kaca ini dibatasi maksimal lima orang dan waktunya juga dibatasi lima menit, karena harus bergantian dengan wisatawan lainnya. Serta alas kaki kita juga mesti dilepas, diganti dengan sandal yang sudah disediakan oleh pengurusnya.

www.travelingku.net
Akhirnya, bisa juga di ujung jembatan

Waktu itu kami bertiga yang main ke Jembatan Kacanya, karena Mas Bangkit entah di mana, ya maklum orang sibuk. Wahahaha, jadi saya, Syarah dan Alfi yang asyik foto-foto di jembatan kece tersebut. Sensasi yang cukup luar biasa juga kami rasakan. Iya, kami cukup takut juga ternyata berjalan di kaca dan melihat ke bawah itu kayak jalan melayang. Saya lihat juga ada yang enggak jadi karena takut.

www.travelingku.net
Asyik, dapat foto begini, cakep :D

Setelah batas waktu lima menit yang diberikan untuk berfoto-foto di Jembatan Kaca, kami mencoba spot selfie lainnya. Ada miniatur Balon Udara, Pohon yang diberi warna-warni pita, kemudian taman dan beberapa spot jembatan lainnya yang cukup kece. Dan yang lainnya ialah kami bisa melihat peternakan sapi, kelinci dan kambing. Di sini, bisa banget lho memberikan makanan kepada binatang piaraan.

www.travelingku.net
Udah kayak balon udara beneran, kan?

Kiri ke kanan: Alfi, saya, Syarah, Mas Bangkit

Puas keliling ke sana-sini, kami capek juga. Akhirnya kami berpamit pulang, terlebih hari sudah cukup petang, sudah hampir setengah enam sore. Suami saya sudah menjemput di parkiran. Alfi dan Syarah mereka pulang berdua, dan yang ditinggal sampai malam tentunya Mas Bangkit karena ada keperluan lain.

www.travelingku.net
2 ekor sapi yang berhasil kami kunjungi, yang lain penuh sesak dengan amak-anak yang berantusias memberikan makanan
www.travelingku.net
Di Jembatan taman Caping Park, Syarah and me

Dan saya sama suami juga melanjutkan perjalanan untuk makan di Purwokerto bersama teman-teman yang sudah menunggunya juga. Hari yang melelahkan memang, tapi menyenangkan.


Selang dua hari, saya dan Syarah meminta foto yang ada di kameranya Alfi, tapi naas, enggak semua foto tersimpan, karena memory full dan kameranya mau dipakai untuk hal lainnya, sebelum foto-foto dipindahkan ke laptop, langsung didelete. Ya sudah, saya dan Syarah menjerit histeris, foto alay kami tak tersimpan. Hahahahaha. Berharap bisa main lagi ke Caping Park, karena makin ke sini makin bagus juga, banyak penambahan spot wisatanya.

Okay, itulah cerita kami di Caping Park. Untuk tiket masuk Rp 20.000/orang di weekday. Rp 25.000/orang di weekend.


Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Terima kasih sudah berkunjung. :)

Caping Park

Bermain - Berlibur - Belajar
Buka: Pukul 08.00 - 18.00 WIB
Instagram: @capingpark 
Contact Person: +62 812-2579-6606 (WA)

Menikmati Mie Ayam Organik di Rumah Mie Eyang Heri

www.travelingku.net
Mie Ayam, salah satu makanan favorit kita. Hampir setiap orang mencintai mie, termasuk saya. Dari mie instan, mie yang dijual abang-abang kantin kantor, di warung pinggir jalan dan yang di mall, sebagian sudah saya jabanin. Dan kali ini saya juga ingin bercerita tentang pengalaman buka bersama di salah satu resto unik yang menyajikan menu mie ayam. Karena mie di sini lain daripada yang lainnya.


Rumah Mie Eyang Heri.

www.travelingku.net
Pintu masuk yang kece badai

Itu nama resto mie ayamnya. Sebelum berlanjut tentang masakannya, saya ingin bercerita dulu tentang ruang atau tempatnya. Dari luar memang tak tampak bahwa ini sebuah restoran, masuk ke pintu ada jalan setapak kecil yang kanan-kirinya terdapat kolam kecil dengan air mancur kecil. Kemudian di sebelah kanannya, ada macam mini bar dengan gelas-gelas yang berjejer. Aneka macam gelas di sini ada lho. Cakep!

www.travelingku.net
Semacam mini bar

Lanjut masuk ke dalam, kami duduk di tempat yang cukup luas karena kami datang beramai-ramai. Mejanya sangat eksentrik, kursinya seperti kursi di ruang makan rumah sendiri. Eksklusif, elegan dan sangat nyaman. Setelah duduk-duduk beberapa saat sambil memperhatikan secara seksama tentang hiasan dinding dan ornament-ornamen di sekitar, kami tak lupa untuk memesan makanannya. Tentunya mie. Dan minumnya kompak es teh dan es jeruk serta es campur untuk buka puasa.

www.travelingku.net
Tempat duduknya terkesan mevvah

www.travelingku.net
Ada rak buku, kita bisa baca-baca buku sambil menunggu pesanan

Sambil menunggu pesanan datang, kami lanjutkan secara seksama untuk melihat sekitar. Ternyata ruangan ini memang benar-benar unik. Lampu kaca yang meneranginya juga itu terlihat lampu zaman dulu tetapi memberikan kesan mewah. Foto-foto beberapa tokoh nasional maupun dunia juga juga terpampang di dinding, serta terdapat rak buku yang mana bisa kita baca bukunya sambil menunggu orderan datang.

www.travelingku.net
Eyang Heri menyiapkan pesanannya. Dapurnya oke, bersih

www.travelingku.net
Es campur cocok untuk buka puasa

Setelah mie, es campur dan minuman serta tambah gorengan; akhirnya datang, kami lanjut foto-foto makananya dulu, karena memang belum waktunya berbuka puasa. Tinggal menunggu beberapa menit lagi. Dan terlihat juga ada beberapa potongan buah untuk pembuka puasa. Saat bedug maghrib terdengar, irisan dari beberapa macam buah itu langsung raib kami makan tanpa difoto dulu. Hahaha.

www.travelingku.net
Esnya nampak seger banget

Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami mencicipi mie ayam buatan Eyang Heri yang terkenal itu. Banyak yang mengatakan mie di sini itu spesial, entah apa yang membuatnya dibilang begitu, mari kita cari tahu.

Tak sedikit yang mengatakan kalau Mie Ayam Eyang Heri itu bukan sembarang mie. Saya jadi penasaran dong, mengapa sampai disebut seperti itu. Ternyata, ada beberapa alasannya, di antarannya:

  • Mie Ayam Eyang Heri ini dibuat sendiri dan mengandung bahan organic
  • Mienya bisa berwarna-warni tapi tidak mengandung pewarna buatan
  • Warna-warna tersebut diambil dari buah atau sayuran
  • Seperti warna pink misalnya, itu dibuat dengan campuran buah naga
  • Mienya pipih dan teksturnya kenyal


Itulah yang membuat Mie Ayam Eyang Heri beda dari yang lainnya. Untuk soal rasa, tidak perlu diragukan lagi. Racikan bumbu yang dibuat oleh Eyang Heri itu meresap dengan sempurna sehingga mie yang kita makan rasanya pas, gurih dan nagih. Mau dimakan dengan kuah atau kering, mienya tetap kenyal dan lembut. Sehingga sangat memanjakan lidah. Cocok banget deh buat memuaskan para pecinta mie seperti kami.

www.travelingku.net
Mau yang warna apa? Original atau pink?

Tak berapa lama kemudian, makanan di meja bersih. Hanya tersisa mangkok dan gelas-gelasnya. Menunggu makanan turun sempurna ke perut, kami lanjut mengobrol santai dulu. Dari membahas pariwisata di Purbalingga maupun tentang bagaimana belajar memotret. Karena di sini juga hadir fotografer dan videographer andal seperti Notomoto dan Dhody Sableng.

www.travelingku.net
Okelah, kita santai sehabis melahap mie ayam

Setelah dirasa cukup, kami pun menyudahi pertemuan ini untuk melanjutkan perjalanan lainnya. Nah, buat teman-teman yang di Purbalingga, ingin menikmati hidangan mie ayam tapi yang beda dari lainnya, coba deh datang ke Rumah Mie Ayam Eyang Heri. Bahkan saat ini tidak hanya menyediakan mie saja, tetapi banyak menu-menu baru yang wajib dicicipi. Oh ya, saya lupa tentang harganya jadi saya tidak tulis di sini. Untuk info lebih lanjut bisa banget langsung meluncur ke instagramnya Mie Ayam Eyang Heri di @rumahmieeyangheri .

Okay, sampai di sini dulu ya, terima kasih sudah berkunjung.

RUMAH MIE AYAM EYANG HERI
Jl. Bhayangkara No. 22, Graha Purnawira, Wirasana
Purbalingga
No. HP: 082243691959

Sepenggal Cerita Liburan di Pantai Ayah

www.erycorners.com
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa saya pernah ke Pantai Ayah untuk menikmati sunset. Dan kali ini tentang Pantai Ayah pun belum berakhir. Ini Ketika saya datang di libur panjang lebaran. Saya datang bersama suami, dan dua adik laki-laki saya. Awalnya itu kami mau ke Jogja, tapi jalannya macet parah. Daripada saya jengkel sepanjang jalan, akhirnya pas di daerah Kebumen, kami ambil arah ke kanan menuju Kecamatan Ayah. Okaylah, akhirnya ke Pantai Ayah lagi. Tiket masuk per orang Rp 10.000,00. Untuk tiket parkir kendaraan lupa saya, karena enggak saya baca secara seksama juga. Yang penting masuk ke kawasan wisata Pantai Ayah atau yang dikenal juga dengan Pantai Logending.

Berhubung ini momen libur lebaran, tentu pengunjung yang datang sangat padat. Keunikan dari pantai ini ialah memiliki hutan bakau yang rindang. Dan cukup instagramble kalau foto di jembatan yang di sampingnya terdapat hutan bakau. Sehingga enggak heran deh, banyak pengunjung yang foto-foto di situ bahkan ramai banget, padahal cuaca panas sekali. Daripada lama ngantri di situ, kami mending naik perahu. Tiket per orang untuk keliling dengan naik perahu sebesar Rp 20.000,00. Kami naik perahu kecil untuk mengitari perairan yang terdapat di Pantai Ayah. Lebih masuk ke dalam lagi ternyata banyak juga tanaman bakau di kawasan ini.

www.erycorners.com
Mari kita melaut, karena nenek moyang kita seorang pelaut (apaan sih, kagak nyambung)


Saya suka dengan pemandangan sekitar, melihat ke samping banyak tanaman bakau dan lainnya yang subur dan kaya warna hijau. Selain membuat indah pemandangan, hutan bakau juga bagus untuk mencegah terjadinya erosi abrasi pada pantai. Bisa menanggulangi bencana dan mencegah instrusi air laut. Ini penting banget, agar air laut yang ke daratan bisa dicegah atau ditahan oleh tanaman bakau, karena kalau tidak ada tanaman bakau, air laut akan masuk ke daratan dan bisa mencampuri air tawar. Sehinga air tawar rasanya ikutan asin. Dan juga sebagai tempat tinggal beberapa spesies hewan laut, mereka ada yang betah di dalam hutan bakau atau mangrove. Semoga tanaman ini tidak dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

www.erycorners.com
Menikmati sensai ombak kecil, asyik juga ternyata :D

Setelah mengelilingi perairan yang kurang lebih dua puluh menitan, kami mendarat di pantai. Tempat pendaratan dengan lokasi naiknya berbeda, ini di sebelah timur pantai, jadi mau enggak mau kalau mau pulang, harus melewati jembatan yang instagramable itu. Tapi panas, Guys. Buat saya ini mah bukan instagramable, karena momen pas datang di sini lagi menyenga-menyengatnya. Selain itu banyak sekali yang orang yang berlalu lalang, karena memang waktu liburan.

www.erycorners.com
Melihat yang ijo-ijo itu bikin mata adem, seger deh


Dan pada akhirnya kami juga melewati jembatan ini, mencoba mengambil beberapa foto tetapi memang pancaran wajahku itu kalah jauh dengan sinar matahari yang terik. Jalan berapa meter saja kami sudah ngos-ngosan, ketahuan kan jarang olahraga. Untung saja ada semacam pos di jembatan ini, sehingga kami berhenti sejenak, berteduh sambil menikmati angin yang cukup kencang dari laut.

www.erycorners.com
Rehat sejenak dulu dah....

Selanjutnya, kami menuju warung makan dong, udah keliling hutan bakau, jalan dari jembatan menuju bibir pantai itu juga mengurus tenaga. Saatnya hunting makanan biar perut enggak protes. Mau makan apa di sini banyak sekali yang berjualan. Sepanjang bibir pantai banyak warung-warung makan yang menyediakan berbagai makanan. Ada soto, bakso, mie ayam, gecot, pecel, rujak, aneka gorengan, aneka jus, air mineral dan sebagainya. Kami berempat memesan gecot dan air mineral serta mendoan dan bakwan. Saking laparnya, damn, lupa difoto buat kasih feed Instagram. Sadar-sadar makanan sudah habis dan bersih. Wkwkwkwk . Jumlah yang kami bayar waktu itu semuanya Rp 80.000,00. Ya, masih harga wajar menurut kami. Meskipun harga lebih mahal dari warung yang bukan tempat wisata, tapi ini harganya enggak beda jauh lah. Seingat saya gecotnya itu Rp 10.000 an per porsi dan mendoan atau bakwan Rp 1.000 per buahnya. Jadi, masih umum, Guys

Perut sudah kenyang selanjutnya kami menuju ke parkiran. Hari masih cerah, belum sore, masih jam dua siang. Mau pulang kayaknya terlalu cepat, sehingga kami menuju ke timur lagi, ke pantai yang dekat dengan Pantai Ayah. Yupz, jaraknya hanya 800 meter dari Pantai Ayah. Pantai apakah itu? Tunggu cerita saya selanjutnya ya. 

Terima kasih sudah berkunjung di blog ini, sampai jumpa di lain cerita. ^^

Braling Grand Hotel by Azana Hotel. Satu-satunya Hotel Mewah di Purbalingga yang Mampu Membuat Wisatawan Betah dan Nyaman

www.travellingku.net
Grand Braling Hotel Purbalingga by Azana Hotel
Hallo, Guys, jumpa lagi di blog travelingku.net yang bercerita tentang kisah perjalanan dan kuliner. Kali ini saya ingin bercerita tentang kota tempat tinggal saya, yakni Purbalingga. Teman-teman mungkin sudah tidak asing lagi dengan Purbalingga. Yupz, sebuah wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya. Beberapa tempat sudah pernah saya singgahi. Seperi Desa Serang, Desa Panusupan, Goa Lawa dan lainnya.

Geliat wisata Purbalingga memang sangat menjanjikan. Mungkin karena letak geografisnya yang sangat sempurna untuk melengkapi keindahan alam yang sudah ada. Atau mungkin karena Tuhan ingin menciptakan Purbalingga penuh dengan pesona yang memukau.

Keindahan wisata yang sudah ada tentunya perlu diimbangi dengan tempat singgah atau menginap. Iya, agar pelancong dari luar Purbalingga bisa berlama-lama singgah, jadi harus menginap. Selain itu, bisa melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi wisata berikutnya.

Untuk itu, kini telah hadir di Purbalingga Braling Grand Hotel by Azana Hotel. Merupakan satu-satunya hotel berbintang 4 yang ada di Purbalingga. Hotel mewah ini mulai dibangun pada bulan Mei 2019. Dan akan segera rampung proses pengerjaannya.

Hotel ini terletak di pusat kota, Jalan Let. Jend. S. Parman, Kedung Menjangan, Purbalingga. Bahkan jarak dengan Alun-alun Purbalingga bisa ditempuh dalam waktu enam menit. Selain itu akses menuju ke Bandara Jenderal Soedirman juga cukup mudah. Sehingga sangat membantu bagi pendatang yang ingin berkunjung ke Purbalingga.

Penasaran kan bagaimana dengan kemewahan Braling Grand Hotel Purbalingga? Pastinya hotel mewah ini memiliki fasilitas yang super komplit dan sangat memanjakan tamu. Dan berikut merupakan alasan mengapa Braling Grand Hotel Purbalingga by Azana Hotel merupakan hotel terbaik yang ada di Purbalingga.

1. Hotel Lobby yang Elegan
www.travelingku.net
Ketika kita berkunjung ke sehuah hotel, tentunya sebelum check in kita mesti ke lobby dulu. Lobby merupakan tempat yang memberikan  kesan pertama yang diberikan oleh hotel kepada tamu yang datang. Sehingga lobby perlu dibuat nyaman agar tamu merasa betah. Dan itu semua terdapat di Braling Grand Hotel Purbalingga. Lobbynya sangat elegan dan memang mewah. Bikin betah yang datang, sudah pasti.

2. Kamar Hotel yang Super Nyaman
Di Grand Braling Hotel Purbalingga itu terdapat lebih dari 100 kamar. Dari Loft Room, Suite Room, Deluxe Superior hingga Presidential Suite tersedia di sini. Masing-masing memiliki fasilitas kamar mandi yang mewah, suasana yang nyaman dan membuat tidur nyenyak. Dan untuk Presidential Suite juga tersedia dapur kecil serta meja makan untuk 4 orang. Yang ingin staycation di hotel bersama keluarga, sangat cocok untuk menginap di sini.

3. Meeting Room Termewah yang Pernah Ada di Purbalingga
www.travelngku.net
Meeting roomnya begini, tentu saja asyik dan enggak bikin ngantuk
Menyajikan tempat untuk para pebisnis di Purbalingga itu memang perlu. Karena di Purbalingga sendiri merupakan tempat dimana banyak berdirinya perusahaan. Nah, meeting room di Braling Grand Hotel ini sangat cocok untuk mereka-mereka yang akan mengadakan pertemuan untuk membahas kinerja perusahaan ataupun pertemuan dengan klien. Meeting room di sini ada delapan ruang, dan semuanya sangat nyaman dan bisa untuk menampung 250 peserta meeting.


4. Kolam Renang dengan Panorama Langit Purbalingga
Fasilitas lainnya yang bisa kita nikmati dengan cara yang bahagia ialah adanya kolam renang yang ada di lantai 4. Iya, kolam renang di Braling Grand Hotel ini terletak di lantai 4, sehingga tamu yang berenang juga bisa menikmati keindahan kota dan langit Purbalingga.

5. Restaurant and Cafe dengan Menu Spesial
www.travelingku.net
Bagi tamu yang menginap bisa merasakan kemewahan restoran di lantai 1. Sajian menu lokal dan internasional tersedia di sini. Selain itu, rasanya dijamin lezat dan menggugah selera karena dimasak oleh chef hotel yang super andal.

Sedangkan cafe terdapat di lantai 4. Bagi yang suka ngobrol bersama teman-teman, rasanya cocok banget ngafe di Braling Grand Hotel Purbalingga.

6. Ballroom yang Luas
www.travelingku.net
Dengan luas 600 meter persegi, ballroom Grand Braling Hotel mampu menampung 1000 peserta untuk tata ruang teater dan 1200 peserta untuk koktail. Ballroom ini didesain dengan sangat apik, modern dan menjadi tempat yang serbaguna. Iya, bisa untuk acara wedding, atau juga seminar.

Guys, yang mau menikah di Purbalingga, hayuk, booking di Braling Grand Hotel.

7. Play Ground yang Asyik untuk Siapa Saja
Merupakan taman bermain yang bisa digunakan oleh siapa saja. Baik orang dewasa maupun anak-anak. Di sini menjadi salah satu alternatif tempat hiburan yang ramah dan aman, sehingga orang tua tidak khawatir ketika anaknya sedang bermain.

Itulah beberapa alasan mengapa Braling Grand Hotel merupakan hotel terbaik yang ada di Purbalingga. Dengan begitu, diharapkan wisatawan yang berkunjung ke Purbalingga merasa nyaman dan betah karena bisa menginap di hotel yang mewah.

Konsep dari Braling Grand Hotel ini juga sudah tidak diragukan lagi karena berada di bawah naungan Azana Hotel & Resorts yang mana sudah terbukti dengan bagus untuk pembangunan sebuah hotel. 

Bagi yang masih ingin mencari informasi secara detail, bisa banget langsung kunjungi website Azana Hotel & Resorts atau bisa langsung download aplikasinya di Playstore.

Okay, sampai di sini dulu. Siap-siap kita staycation di Grand Braling Hotel by Azana Hotel. Dan menikmati berbagai fasilitas di dalamnya yang sangat kece.

Terima kasih sudah berkunjung. ^^


  • Braling Grand Hotel Purbalingga
Jl. Let Jend. S. Parman, Kedung Menjangan
Purbalingga, Jawa Tengah

Menikmati Senja yang Menggoda di Pantai Ayah

www.travelingku.net

Kebumen, salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang banyak pantainya. Meskipun sudah beberapa kali menyambangi pantai yang ada di Kebumen, tapi itu belum semuanya. Masih hanya sebagian kecil dari deretan pantai di pesisir selatan Jawa Tengah. Terlebih saat ini banyak sekali pantai yang masih perawan yang dikelola menjadi sebuah destinasi wisata baru. Selain masih asri, pantainya juga belum terjamah dari tangan-tangan jahil para pembuang sampah sembarangan. 

Berbeda dengan Pantai Suwuk yang memang sudah cukup lama terkenal dan menjadi salah satu andalan destinasi wisata di Kebumen, sampahnya cukup berserakan di sepanjang bibir pantai. Pun ketika kita berkunjung ke Pantai Karang Bolong, sampah-sampah masih terlihat di sepanjang pantai. Ya, kadang bisa memaklumi saja, karena sudah cukup terkenal kedua pantai tersebut.

Baca juga:



Berbicara pantai yang sudah lama dan terkenal di Kebumen seolah-olah tak akan ada habisnya, dan salah satu yang selalu menjadi buruan wisatawan, yakni Pantai Logending atau yang terkenal dengan Pantai Ayah yang terletak di Kecamatan Ayah, Kebumen. Saya sendiri sudah dua kali menyambangi pantai yang merupakan perbatasan wilayah dengan Cilacap. Yang pertama di Bulan Mei 2018 setelah ada acara gathering dengan komunitas mirc di Purwokerto. Berhubung masih siang, saya merengek ke Pak Suami untuk jalan-jalan, toh weekend bebas dong, enggak ada ganjalan besoknya masuk kerja.

Akhirnya dari Purwokerto kami langsung menuju arah selatan, dan di daerah perbatasan Banyumas, dengan Kebumen, kami berbelok kanan. Lurus mengikuti jalan yang cukup halus namun cukup sepi. Kemudian kami menemukan pertigaan yang terdapat plang. Ayah ke kanan, Buayan ke kiri. Karena kekonyolan kami, akhirnya kami ambil arah ke kiri. Damn, ini arah ke Pantai Suwuk, Guys. Dan kami terus menyusuri jalanan sepanjang Kecamatan Buayan. Jalannya oey, rusak parah sih enggak, tapi cukup membuat senam perut karena banyak yang berlubang.

Sudah hampir tiga jam di perjalanan kami belum menemukan tujuan. Dari Kecamatan Buayan itu kami lurus terus sampai menemukan Pantai Surumanis, saya pengen singgah di situ, tetapi Pak Suami enggak mau. Akhirnya kami lurus dan kami menemukan arah ke Pantai Lampon. Mau ke situ, tapi sudah pernah, jadi enggak jadi. Selanjutnya kami turun menuju Kecmatan Ayah. Ya kalau digambarkan rutenya jadi kayak huruf ‘U’ begitu. Kami berkendara mengelilingi bukit dari Kecamatan Buayan menuju Kecamatan Ayah.


Dari rute itu kami mulai lega, karena sebelumnya was-was juga takut nyasar di tengah hutan. Horor, bo! Berhubung kami capek dan waktu sudah menunjukan sekitar jam empat sore, kami berhenti untuk istirahat dan membeli minum di warung pinggir jalan. Dan ternyata itu ada arah jalan menuju Pantai Wedi Putih. Saya tanya-tanya dong ke bapak-bapak penjual minuman itu. Katanya tinggal turun ke bawah menuju Pantai Wedi Putih. Okay fix, kami coba.

Parah, parah, parah! Jalannya itu masih jalan setapak tanah yang menuruni bukit. Kami yang berboncengan motor saja enggak berani. Terus saya turun dong jalan kaki. Terus Pak Suami melaju pelan dengan mengendarari sepeda motor. Tapi setelah dirasa-rasa kok ya enggak sampai-sampai menuju Pantai Wedi Putih itu. Dan melihat ke bawah, ternyata masih cukup terjal. Selain itu, kami juga bertemu dengan sekumpulan anak-anak remaja yang naik untuk pulang. Mereka terlihat megap-megap seperti kehabisan napas. Akhirnya kami putuskan untuk naik lagi dan enggak usah ke Pantai Wedi Putih.

Dari itu, sepanjang jalan Pak Suami ngomel karena jalannya yang mengerikan, untung saja tidak terjadi apa-apa dengan kami. Dengan perasaan plong, Pak Suami mengendarai sepeda motor dengan santai. Tak terasa waktu sudah hampir petang. Melihat Pantai Ayah masih terbuka, kami pun masuk. Dan kami gratis masuk ke sini karena mungkin sudah sore kali ya?

Menikmati Sunset di Pantai Ayah
www.travelingku.net
Untung saja kami masih bisa menikmati indahnya sunset

Sambil istirahat, mengatur napas kami yang sudah tidak karuan, serta mengumpulkan puing-puing tenaga untuk pulang, kami masih beruntung menemukan sunset di Pantai Ayah. Rasanya bagaimana ya, pokoknya plong banget gitu, karena kami sebelumnya itu muter-muter di perjalanan kagak jelas. Hahaha.

Dapat menyaksikan matahari terbenam di pantai merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kami. Melihat siluet jingga yang keemasan itu membuat panorama alam semakin sempurna. Tak heran, banyak juga kawula muda yang mencoba mengabadikan momen indah itu dengan kamera. Termasuk kami.

www.travelingku.net
Foto begini biar dikata romantis, hahaha


www.travelingku.net
Sebenarnya masih betah main di pantai, tapi apalah daya, kami harus pulang ke rumah

Cukup puas bermain di Pantai Ayah, sudah saatnya kami harus pulang. Iya, hari sudah gelap. Perjalanan menuju Purbalingga juga cukup memakan waktu yang tidak sedikit. Dari Pantai Ayah kurang lebihnya dua jam. Itu pun kalau cukup ngebut, berhubung sudah gelap dan jalanan yang cukup berkelok, tentu saja kami lebih pelan. Sampai rumah hampir setengah sembilan malam. Rasa lelah, lucu, konyol, dan lainnya kami simpan dalam lelapnya tidur. Dan cerita perjalanan ini bisa menghiasi blog ini juga.

Terima kasih sudah mampir di sini, dan saya masih punya cerita lagi di Pantai Ayah, yaitu pada saat libur lebaran tahun kemarin. Tunggu kelanjutan ceritanya ya, terima kasih.