Bebek Goreng Lamongan : Sensasi Makan di Alam Terbuka

Hallo, kembali lagi di blog ini. Kali ini saya akan mengajak bercerita tentang kuliner yang letaknya di alun-alun Purbalingga. Untuk warga Purbalingga sendiri tentunya sudah tiak asing akan sajian yang berselera dan menggoa di jantung kota ini.

Dari makanan camilan, minuman, hingga makanan porsi berat tersaji lengkap. Para penjual pun bervariasi dari berbagai daerah termasuk Lamongan. Ya, rasanya sangat familier untuk warung makan yang satu ini. Selain sambal yang khas untuk menarik pengunjung, warung makan Lamongan juga menyediakan beberapa menu.

Pada sore itu, saya dan teman-teman kerja ingin menikmati sesuatu yang berbeda. Akhirnya kami putuskan untuk makan di warung makan Lamongan dengan memesan bebek goreng dan jeruk hangat. Kedua menu tersebut merupakan menu andalan dari warung ini. Terlihat, rata-rata orang yang memesan bebek goreng dengan jeruk hangat. Untuk tempat duduk memang kita tidak kebagian di dalam warung tenda karena memang sempit dan terbatas. Tetapi, tidak masalah bagi kami, seluruh warung yang berjualan di komplek alun-alun, memiliki tempat yang luas untuk tempat duduk. Yaitu, seluruh alun-alun.

Kami juga duduk lesehan dengan beralaskan tikar. Sambil mennggu pesanan datang, tidak ketinggalan pula untuk mengambil foto-foto. Setelah beberapa menit, pesanan datang, dari mulai minuman jeruk hangat, nasi dan bebek goreng beserta lalapan. Porsi di sini bisa dibilang porsi jumbo alias besar namun enak.


Langsung saja deh, kita menikmati hidangan yang masih panas karena baru saja dimasak. Hal yang paling utama menggoda tentu sambal yang menjadi saos di bebek goreng. Sambal ini luar biasa nikmatnya. Pedasnya pas dan cocok juga untuk orang yang tidak suka pedas seperti saya.

Untuk daging bebek terasa empuk dan gurih, sangat gurih. Sampai-sampai kami memakannya dengan lahap. Selain itu, perpaduan dengan minuman jeruk hangat menjadikan tambah nikmatnya hidangan ini. Hmmm, so yummy.. Tidak akan pernah menyesal untuk makan di rumah makan Lamongan ini. Bisa datang sendiri, bersama teman-teman, keluarga atau dengan orang yang terkasih.

Selain itu, tentang harga juga tidak mahal lho, beneran deh. Untuk minuman jeruk hangat hanya seharga Rp 5.000,00 per gelas, nasi satu piring hanya Rp 3.000,00 dan bebek goreng beserta sambal nikmatnya dibandrol Rp 18.000,00. Untuk lalapan tentunya gratis ya, guys.. hehehee...

Nah, buat teman-teman yang suka kuliner, kalau singgah di alun-alun Purbalingga jangan lupa untuk mampir ke warung makan Lamongan. Tempatnya di sebelah pojok barat alun-alun bagian selatan atau berseberangan dengan toko Family Kampus dan Hotel Nusantara, atau seberang utara dari SMP Negeri 1 Purbalingga. Mudah dicari, kan?

Oh ya, untuk jam buka, warung ini dimulai dari sore, sekitar jam empat sore, atau setelah shalat ashar. Untuk tutup, tergantung habisnya jam berapa, tidak menentu. Kalau pas lagi ramai banget ya jam sembilan malam aja udah beres-beres. Kalau sepi, bisa sampai jam sebelas malam, tapi itu sangat maksimal ya.

Selamat mencoba deh.. :)

Romansa Sunset di Pantai Parangtritis

Lama sudah aku ingin menulis tentang ini. Ya, meskipun sudah lama juga tentang perjalanan ke Jogja. Tapi kenangan manis bersama indahnya sunset di Parangtritis tak mudah dilupakan begitu saja. Dari semua pantai yang kusinggahi, baru kali ini kutemukan sempurnanya matahari tenggelam.

Berawal dari galaunya perjalanan yang sudah siang tapi masih terjebak di daerah Prambanan. Ditambah lagi kita menggunakan kendaraan umum alias bus kota. Setelah beberapa lama perjalanan, aku dan Mba Nia sampai juga di terminal Giwangan, Yogyakarta. Waktu memang sudah cukup sore, sudah jam 3. Tetapi rasa penasaran untuk ke pantai cukup besar dan harus ke pantai.

Baca juga : 

Dengan perasaan yang was-was, karena di terminal ini rasanya sangat asing bagi kami. Namun beruntung ada bapak-bapak yang mau menjelaskan bahwa pantai terdekat dari Giwangan ya Parangtritis. Beliau pun mengarahkan ke saya untuk naik sebuah bus yang akan segera melaju.

Tetapi, yang namanya kendaraan umum, pasti di jalan pasti sering berhenti. Baik untuk menaikkan penumpang dan atau menurunkan penumpang. Alhasil kita sampai di Pantai Parangtritis sudah sore, bahkan sudah setengah lima. Setelah turun dari bus, kita langsung buru-buru menuju pantai bermain ombak. Berfoto-foto meski cuma berdua.

Meski sudah sore, di Parangtritis kian ramai

Dalam hati juga sebenarnya agak takut, bagaimana nanti kita pulang ke Malioboro (hotel yang kita booking di daerah Malioboro). Namun, rasa itu ditepiskan dengan adanya pemandangan sunset yang sungguh menawan. Luar biasa rasanya. Sunset yang sangat menakjubkan. Dengan mata ini kulihat matahari kembali ke peraduan dengan sempurnanya



Sempurna, menyaksikan matahari kembali ke peraduan :)
Begitu indah nan romantisnya sunset ini. Kemilau cahaya keemasan pun terpampang jelas dari pantai. Romansa sunset yang sangat menawan, ya begitulah Parangtritis, pesonamu membawa kenangan yang tak terlupakan.

Lezatnya Mie Ayam Pangsit Wetan Taman Kota

Masih dalam cerita kuliner di Purbalingga. Setelah kemarin bahas bakso, kali ini coba bahas Mie Ayam Pangsit. Hmm, kalau denger mie ayam tuh rasanya mupeng pengen banget beli. Apalagi kalau ayamnya banyak, hehehehe..


Berbicara mie ayam juga banyak varian, ada mie ayam pangsit, mie ayam ceker, mie ayam kacang, mie ayam selada, dan lainnya. Tapi, kesempatan ini bahas mie ayam pangsit dulu deh. Ini pengalamanku makan mie ayam di komplek pasar lama Purbalingga, yang sekarang menjadi Taman Usman Janatin.

Setelah dicampur saos dan kecap, jadi makin menggoda

Pertama datang ke sini diajak bu boss karena aku nemenin dia belanja keperluan dapur. Saat itu, dia nawarin makan siang mie ayam pangsit. Aku sih, iya in aja. Toh pasti gratis, xixixixixi :D Aku pun diajak ke sebuah warung di timur taman kota, namanya Warung Mie Ayam Taman Kota.

Ini kali pertama aku datang ke warung mie ayam ini. Agak takut juga, takut gak enak. Tapi bu boss cerita kalau di sini enak. Jadi ya, kami tunggu pesanan mie-nya. Setelah datang pesanan kami, langsung deh saya campur bumbu pelengkap yang sudah tersedia di meja. Ada saos, kecap, lada, cuka, dll, pokoknya sesuka selera deh.

Mie-nya pipih dan kenyal

Sebelum dimakan, aku perhatikan mie-nya. Ternyata lain dari mie ayam lainnya. Terlihat dari teksturnya, mie di sini lebih pipih dan kenyal. Pas dicoba, langsung deh nendang di lidah. Enak mie ayam pangsit ini. Racikan bumbu sempurna diolah sehingga menyatu dengan mie. Selain itu, pangsitnya juga gurih. Jadi, gak nyesel kalau makan di sini.

Yang mau sewa gerobag Mie Ayam juga bisa loh :)

Dan, untuk minumannya, tersedia lengkap seperti es teh, es jeruk, jus mangga, jua alpukat, jus jambu merah, bahkan es durian dan aneka minuman lainnya.

Di Warung ini, harga makanan juga terjangkau. Untuk Mie Ayam Pangsit seharga Rp 8.000/mangkok, Mie Ayam Ceker Rp 9.000/mangkok, Mie Ayam Ceker dan Kriuk dibandrol Rp 10.000/mangkok, sedangkan Mie Ayam Ceker dan Pangsit (yang merupakan favorit) seharga Rp 9.500/mangkok. Untuk harga minuman mulai dari Rp 5.000, dan aneka jus sampai Rp 10.000 per gelas. Sedangkan untuk es durian Rp 13.000 per mangkok.


Nah, masih pengen tahu jam bukanya gak? Kalau jam buka sih standar aja, dari jam 9 pagi hingga 9 malam. Oh ya, untuk pesanan delivery order juga bisa, tinggal SMS ke 0857 4775 3413. Dan, bagi yang mau sewa gerobak Mie Ayam sangat terbuka lebar.

Menikmati Sedapnya Bakso Alam Segar Purbalingga

Bakso Sapi Alam Segar
Hallo, semangat Senin.
Setelah beberapa minggu off dari ngeblog, akhirnya saya bisa kembali lagi. Kali ini saya akan bagikan tentang kuliner yang tidak asing bagi teman-teman. It's Meatballs alias Bakso. Udah pada kenal semua kan dengan makanan yang satu ini? Hampir setiap pelosok di penjuru negeri ini ada yang jual bakso. Dari berbagai model dan jenis pun disuguhkan. Tujuannya satu, untuk memuaskan penikmat kuliner yang selalu dan terus mencari sensasi berbeda dari sebuah rasa.

Nah, kali ini, saya infokan tentang bakso yang sudah cukup ngehitz di Purbalingga. Pas pertama dengar nama warungnya sih, kurang percaya dan takut harganya gak bersahabat. Tapi, saya penasaran dan bertekad untuk mencicipinya. Dari pada penasaran terus, kan lebih baik datang, iya kan?

Warung Bakso Alam Segar, itu namanya. Dari nama saja sudah cukup membuat orang penasaran. Alam segar? Bayangan pertama kali itu sebuah alam dengan pepohonan dan kesejukan. Tapi, ini warung makan ya, bukan hutan :) Terletak di dekat pusat dagang Pasar Patemon, atau tepatnya depan TK Pembina, Patemon, Bojongsari, Purbalingga. Warung bakso ini menyediakan bakso urat dan juga mie ayam. Jam buka dari 9 pagi hingga malam (biasanya jam 8 mal udah tutup karena habis).

Pesanan datang, tinggal melahap.

Setiap hari warung ini tidak sepi, selalu penuh pengunjung untuk menikmati bakso maupun mie ayam. Saya yang sedang penasaran pun langsung memesan 1 porsi bakso itu dengan minum es jeruk. Tanpa menunggu lama, pesanan pun datang. Pas pertama lihat saja, bakso ini sangat menggiurkan. Langsung deh saya memotong bakso tersebut (karena ukurannya besar). Memang benar bakso ini asli daging sapi, di dalamnya pun terdapat daging sapi cincang. Pas di makan, hmm bumbu dan kuahnya pas di lidah. Baksonya juga tidak alot. Selain itu, ada mie putih dan atau mie kuning (bisa memesan sesuai selera untuk mie-nya), irisan daun cesim, dan bawang goreng. Di meja, tersedia ketupat, irisan mentimun, cuka, saos tomat dan cabai, kecap serta sambal. Kita bisa menambahkannya sendiri sesuai selera. Dan, untuk pelengkap juga bisa ditambahkan kerupuk, kelanting atau kacang goreng.

Karena saya menikmatinya, sehingga tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan 1 mangkok bakso dan satu gelas es jeruk. Porsinya juga pas bagi orang yang susah kenyang seperti saya. Tidak akan kurang deh, dijamin kenyang. :D

Nah, setelah selesai makan, tentunya harus ke kasir buat bayar, iya dong, masa mau nyelonong aja. Tapi, saya itu ragu-ragu, karena duit udah nipis, dompet aja udah mau nangis karena isinya struk mulu. Saya beranikan diri deh ke kasir. Kalau kurang, ya udah nyuci mangkok, pikirku. Tapi, pas tanya berapa totalnya, rupanya murah meriah. Hanya Rp 12.000 untuk 1 mangkok bakso dan es jeruk. Yeyeee, saya enggak jadi nyuci mangkok. Ternyata harga bakso hanya Rp 9.000/porsi dan es jeruk hanya Rp 3.000/porsi.


Harganya murah, tempat ini cocok untuk didatangi berulang-ulang. Selain rasanya yang enak, lokasinya juga mudah untuk dicari. So, kalau main ke Owabong, jangan lupa untuk mampir ke Warung Alam Segar.

Mengulik Perjalanan Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Banyumas


Wow, dari judulnya saja terlihat cukup ekstrim. Bagaimana tidak? Dari Purbalingga ke Banjarnegara terus ke Kebumen lanjut ke Banyumas. Yang tahu rute pejalanan ini pasti menganggap saya ini cukup gila, karena perjalanan yang ngeri-ngeri sedap. Lalu, bagaimana yang belum tahu? Tenang, saya akan menceritakan perjalanan ini.
Jalan yang kita lalui menyejukkan mata

Sebenarnya sudah hampir dua bulan perjalanan ini. Diawali dari rencana liburan ke Pantai yang terletak di Gombong, Kebumen. Saya mengajak teman untuk pergi ke sana. Namun, kami berangkat sudah cukup siang, karena rempong dulu di dapur. Sehingga kita menggunakan jalur alternatif, yaitu melaui Banjarnegara. Sayangnya, pas baru nyampai Kecamatan Bukateja, Purbalingga, kita harus bermacet ria karena jalan sedang direnovasi.

Sesampainya di Mandiraja, Banjarnegara, kami menuju arah selatan. Dari sinilah petualangan kami dimulai. Jalur yang kami lalui cukup membuat senam jantung, ya maklum cewek berdua naik motor. Kanan kiri perbukitan, bahkan merupakan daerah rawan longsor. Tak sedikit kami jumpai di titik-titik longsor yang sedang diperbaiki, seperti perbaikan jembatan dan jalan. Rute ini memang luar biasa. Ada tanjakan, turunan, tikungan tajam dan curam, membuat adrenalin semakin gregetan. Rasanya ngeri tapi sedap. Negerinya, kalau tidak pandai-pandai mengatur rem dan gas sepeda motor, bisa-bisa kita masuk ke jurang, atau malah terjadi tabrakan karena jalan sempit tetapi ramai. Sedangkan sedapnya, pemandangan yang luar biasa itu menyejukkan mata. Apa lagi udara yang sejuk, membuat perjalanan tidak terasa panas.

Pemandangan di area waduk Sempor

Setelah perjalanan satu jam dari Purbalingga, kami istirahat dan singgah di Waduk Sempor, Kebumen. Sambil merabahkan badan yang lelah, juga bisa menikmati pemandangan yang hijau dan menyegarkan, serta bisa merasakan damainya alam ini.

Adem deh di Waduk Sempor


Dari Sempor kita langsung menuju Pantai Suwuk dengan mengandalkan plang di jalan raya. Prinsip kami, nyasar ya masih di Jawa Tengah dan masih satu rumpun ngapak. Hehehehe… Untuk menuju ke Pantai Suwuk, kami pun sempat bertanya-tanya ke penduduk setempat karena kami hampir nyasar ke Jogja. Setelah perjalanan yang memakan waktu sampai satu jam, kami pun tiba di Pantai Suwuk.


Puas di Pantai Suwuk, kita lanjut ke pantai lain meski bukan rencana awal. Hanya waktu beberapa menit saja, kita singgah di Pantai Karang Bolong dan menikmati keindahannya. Setelah hari cukup sore, kita harus pulang (takut pulang malam, nanti emak sama babeh ngomel :D).


Dalam perjalanan pulang, kami ambil jalan yang berbeda. Kami melalui jalur kota sambil melirik ke kanan dan kiri di mana ada tempat makan yang nikmat dan pas dengan budget kita. Dari Gombong kami lurus ke utara menuju daerah Tambak, Kabupaten Banyumas, untuk menikmati kuliner khas. Dan kami singgah di Warung Makan Sate dan Richa-richa Bebek Lombok Ijo ‘Budhe'.


Setelah kenyang, kita lanjutkan perjalanan menuju Sumpiuh, Banyumas. Jalanan cukup ramai dari kedua arah. Terlebih merupakan jalur selatan menuju Jakarta. Berhubung masih terasa lelah, dan teman saya merasa kepanasan, kami singgah sebentar di pondok bambu pinggir jalan raya Sumpiuh. Tujuannya memang untuk istirahat, selain itu untuk menikmati dawet ketan hitam.

Istirahat sejenak melepas lelah di Sumpiuh, Banyumas

Sambil menunggu teman saya menghabiskan es dawetnya, saya leyeh-leyeh (istirahat) sejenak sambil menikmati belalaian angin yang mesra (mesranya sama angin :O) dan menyejukkan.
Betah deh duduk-duk di sini, sambil lihat pemandangan cakep
Selesai menghabislan es dawet itu, kita lanjutkan perjalanan menuju Sokaraja. Namun sayang, jalan sudah padat merayap bahkan jalur sebaliknya macet. Akhirnya di pertigaan Kebasen, Banyumas, kami ambil kanan untuk mencari jalur alternatif. Dan, jalur ini lebih gila dari jalur pertama berangkat.

Lebih ekstrim, tanjakan dan turunannya lebih tinggi dan curam. Selain itu, karena ini jalan desa, luas jalan pun lebih sempit. Ditambah lagi, aspal jalan yang belum halus, bahkan ada beberapa ruas jalan yang berlubang. Ini bukan senam jantung lagi tapi tambah senam perut karena merasa terkocok-kocok perutnya.

Setelah melewati jalur itu, kami menemukan pertigaan jalan raya. Agar tidak tersesat kami bertanya pada pedagang ayam goreng. Dia menjelaskan, bahwa yang ke kiri arah ke Sokaraja, dan yang ke kanan arah Klampok, Banjarnegara. Fix, dia menyarankan untuk ambil arah ke kanan, yang lebih dekat ke Purbalingga.

Oke, dari Banyumas kita ke Banjarnegara (lagi). Kali ini jalan yang dilalui pun asing. Baru pertama kali saya lewat jalur ini. Ini memang benar-benar jalur alternatif, karena jalan desa juga, bahkan kita melewati perkebunan yang cukup luas. Rasa yang sudah lelah, membuat kita capek dan belum sampai-sampai juga ke Klampok.

Ketika melihat plang ‘Klampok', kita langsung semangat lagi dan terus menekan kecepatan untuk pulang ke Purbalingga. Berhubung di Bukateja sedang diperbaiki, kita pun lewat jalur alternatif agar tidak kejebak macet. Namun, di Kemangkon, justru kemacetan sangat parah. Kendaraan masuk ke jalan ini semua, karena mereka pun menyadari jalan di Bukateja sedang diperbaiki.

Damn… macet parah!
Kalau di film, pasti saya akan terbang lihat jalan gini, hahaha
Beruntung kemacetan itu bisa terurai dan hanya lima belas menit terjebak di dalamnya. Lolos dari kemacetan, kita tancap gas lagi menuju kota Purbalingga, dan kemudian pulang.


Alhamdulillah pas maghrib nyampai di rumah. Perjalanan yang seru, semoga bisa ke tempat lain seperti ini lagi.