Kampung Warna Bobotsari, Wisata Murah Meriah yang Full Colour

www.travelingku.net
Kampung Warna Bobotsari
Purbalingga, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki sejuta Pesona Indonesia. Terutama dari unsur alam yang masih asri dan sangat sejuk. Sehingga tak heran ketika berkunjung ke wilayah ini akan menemui banyak desa wisata. Dari keindahan alam, sungai, air terjun dan perbukitan menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dengan begitu wisata di Purbalingga banyak variasi dan pilihan.


www.travelingku.net
Lucu ya temboknya :)

Seiring perkembangan dunia wisata yang terus melejit, berbagai inovasi dan konsep wisata baru pun dibangun. Seperti halnya Kampung Warna Bobotsari yang baru lahir di bulan Agustus 2017 kemarin. Belajar dan memahami dari Rainbow Village di Semarang, sebuah kampung kumuh di Bobotsari pun disulapnya menjadi sebuah kampung yang penuh warna dan bersih. Kampung ini memang dulu memiliki sejarah yang cukup kelam atau buruk. Banyak kawula mudanya yang menjadi preman dan tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Namun, saat ini kampung yang terletak di sebuah Gang RT 03 RW 08 Kampung Baru, Bobotsari, Purbalingga; kini menjadi tempat yang menyenangkan bagi setiap pengunjungnya.

Baca juga : Menikmati Keasrian Alam dan Serunya Giant Swing di Kampung Kurcaci

www.travelingku.net

Bermodalkan tiket yang sangat murah meriah, karena hanya Rp 3.000 per orang, dan parkir kendaraan Rp 2.000 untuk sepeda motor, kita bisa menikmati lukisan warna-warni yang ada di dinding rumah. Selain itu, hal yang menarik dari kampung ini, aliran sungai yang dulunya keruh dan hitam, sudah mulai jernih dan tidak ada kotoran. Sampah-sampah mulai dibersihkan, bahkan sampah plastik dijadikan hiasan di sepanjang jalan. Sungguh kreatif dan inovatif dari warga kampung tersebut.

www.travelingku.net
Sapta Pesona harus ada

Baca juga : Konsep Klasik Berikan Warna Beda dari Kedai Kebun

www.travelingku.net
Airnya tampak jernih, kan?

www.travelingku.net
Istirahat dulu aah, oh ya di belakang itu ada cafe lho

Nah, sekarang, bisa banget nih, kita-kita jalan menikmati lukisan 3D dengan warna warni yang dipadukan dengan serasi. Saya ke sini sampai lupa waktu lho, padahal belum muter ke semua tempat, tapi sudah lama juga keliling kampung. Selain itu, di sini juga banyak penjual jajanan di warung-warung kecil. Ada juga cafe sederhana, jadi enggak perlu khawatir kalau kita lapar atau kehausan, karena banyak yang jualan.

www.travelingku.net
Please, jangan PHPin akuuuh

www.travelingku.net
Seperti nyata

Di sini memang banyak lukisan yang menempel ke dinding atau pintu rumah-rumah warga. Yang saya herankan itu, mereka ternyata sangat berbakat dalam membuat sebuah lukisan. Karya mereka ini benar-benar asli dari kerja keras sendiri. Mengapresiasikan warna menjadi sebuah gambar yang menarik dan memikat, tentulah bukan hal yang mudah.


www.travelingku.net
Yang mana emotmu?
www.travelingku.net
Yang, hujan turun lagi...

Kampung Warna Bobotsari ini menjadi sebuah destinasi pilihan di Pubalingga, selain harganya yang terjangkau, lokasinya juga dekat dengan terminal Bobotsari. Sehingga bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri, sangat mudah untuk menuju lokasi dengan menggunakan transportasi umum.

Owabong Waterpark, Primadona Wisata Purbalingga

www.travelingku.net
Owabong Waterpark
Destinasi wisata di Purbalingga makin hari makin bertambah. Dari unsur alam, edukasi, seni dan lain sebagainya. Dan seiringnya zaman terus maju yang semakin maraknya wisata, hal ini justru membuat keindahan tersendiri dan menjadi saling bersinergi satu dengan yang lainnya. Tempat wisata yang baru juga belajar dari wisata yang telah lama berdiri. Saling membimbing dan menyemangati agar wisatanya terus maju. Bahkan mereka saling support. Hal ini tentu sangat bagus untuk kemajuan wisata di Purbalingga. Inovasi dan wahana yang lebih seru pun mampu diciptakan, sepertinya halnya Owabong (Objek Wisata Air Bojongsari) Purbalingga yang kini menghadirkan Wahana Coralia 3.

Dan sebelum lanjut, saya ingin mengucapkan ulang tahun terlebih dahulu ke Owabong. Meskipun telat. Karena ulang tahun aslinya tanggal 01 Maret 2018. Hmm, berarti sudah 13 tahun ya.. semoga sukses terus.

www.travelingku.net
Pintu masuk Coralia 3

Apa itu Coralia 3? Secara singkatnya, ialah sebuah wahana game air yang penuh aksi tantangan. Di mana kolam renang yang di bawahnya ada patung-patung yang menyerupai ‘hartu karun’ dan ikan buatan. Siapa yang menemukan pertama kali, dialah pemenangnya. Ini cocok banget bagi kalian yang doyan petualangan di air. Seru abis deh pokoknya. Untuk melakukan game air ini, kita bisa mengajak saudara, teman, atau siapa saja yang penting bisa berenang, hehehe. Kalau enggak bisa ya takutnya fatal gitu karena harus menyelam yang cukup dalam juga, sampai tiga meteran. Kan ngeri kalau enggak bisa berenang, baru nyemplung nanti cengep-cengep, hahahaha.

www.travelingku.net
Permulaan game Coralia 3

Etapi.. enggak usah khawatir, pasalnya di Owabong Waterpark ini bukan cuma Coralia 3 saja yang ngehitz kok. Buat kalian yang ingin menikmati sensasi ombak, tapi enggak ada waktu buat main ke pantai, kita bisa coba nih, Ombak Sagara. Ini sebuah kolam air yang dengan teknologi digerakan menyerupai ombak di laut. Kalau pas jam istirahat (jam 12 – 1 siang) mesin untuk menggerakan air tersebut dimatikan. Air pun berhenti seperti kolam biasa saja. Yaa, memang harus begitu ya, jam istirahat kan waktunya untuk makan siang, sholat dan melepas penat sejenak. Setelah itu, jam 1 siang mulai dinyalakan lagi. Rasanya asyik loh.

www.travelingku.net
Ombak Sagara

Terus buat yang mau renang juga ada, ada tempat khusus untuk berenangnya para master nih. Areanya sudah kayak perlombaan renang gitu, ada garis pembatas setiap peserta. Dan di sini juga ada catatan areanya sangat dalam, jadi, yang berenang di area ini, diharapkan mereka-mereka yang sudah mahir.

Baca juga : Menikmati Keasrian Alam dan Serunya Giant Swing di Kampung Kurcaci

Nah, buat kalian-kalian yang kayak saya, yang cuma buat happy-happy saja, masih banyak tempat asyiknya. Mau memacu adrenalin? Bisa banget, ada prosotan yang keren. Tinggal pilih mau yang panjang kayak ular naga tapi enggak habis-habis, bisa. Mau yang singat dari atas terus muter sebentar langsung terjun ke kolam, juga bisa banget. Ya intinya, senyaman dan sebahagianya sendirilah ya. Toh tujuannya memang buat hiburan, hihihi.

www.travelingku.net
Berani coba?

Ada juga wahana yang air mancur, ini kebanyakan anak-anak yang di sini, dari balita sampai usia dua belas tahunan banyak yang main di sini. Lalu bagi yang ingin bersantai kayak naik kapal, ada nih, coba naik ‘perahu karet’ dan mengalir di sungai buatan. Bisa bersama keluarga kecil gitu, kan seneng. Atau bisa juga nih, mencoba wahana yang seru, di mana air dikumpulin di atas, terus pas udah penuh kita ketumahan airnya seru banget kan? Ekspresi bahagia dan tawa itu renyah dan membuncah jadi satu. Seneng deh rasanya.

www.travelingku.net
Duh, baper gueeeh, hahahaha

Dan bagi kalian yang pengen menikmati wahana lainnya, tenang, masih ada juga. Ada kolam renang yang mana areanya bisa dinaiki balon air. Kita masuk ke dalam balon gitu, terus menggelinding-gelinding di air, hihihi. Nah, di tempat kejadian ini saya sedikit naas, pas masuk ke air, saya jadi bolak balik ingin buang air kecil. Saya jadinya bolak balik ke toilet, ternyata saya terkena anyang-anyangan. Kan ngeselin banget. Mau lama-lama di dalam air jadinya enggak bisa deh.

www.travelingku.net
Airnya jernih banget, kan?

Baca juga : Berantas Tuntas Anyang-Anyangan dengan Prive Uri-Cran

Oh ya, bagi kalian yang bingung mau menaruh barang bawaan seperti tas, sepatu, atau baju ganti, bisa banget nih sewa loker. Satu kali sewa biayanya Rp 5.000 per loker. Dengan begini, kita jadi aman nih kalau mau lama-lama berenang meninggalkan barang, karena semua bawaan yang berharga kita masukan ke dalam loker. Terus untuk tempat pembilas atau kamar mandi juga tersedia banyak. Jadi enggak bingung deh nanti gantinya mau di mana. Yang penting tetap antri dan sopan.

www.travelingku.net
Maapkeen, foto diambil setelah makanan habis

Renang sudah, mandi sudah, ganti baju sudah. Kan lapar, kita bisa menikmati jajanan di sini. Ada banyak yang jualan di sini, dari menu sederhana lontong sama mendoan, terus mie instan, sosis bakar, aneka macam minum, soto ayam, pisang goring dan lainnya. Tinggal pilih deh sesuai selera lidah dan budget yang tersedia.

So, buat yang ingin berlibur dan dekat, bisa banget ke Owabong Waterpark Purbalingga. Harga tiketnya dari Senin sampai Jumat Rp 20.000 per orang. Setiap hari Sabtu dan Minggu atau hari libur (tanggal merah) Rp 30.000 per orang. Mau libur bersama keluarga, bisa banget kan ke Owabong, yang sudah terkenal dengan kenyamanannya.

Baca juga : Sekarang Kita Bisa Nikmati KFC Original di Pabuaran, Loh!

Okay, terima kasih, selamat mencoba.

Menikmati Ramainya Jalan di Jogja yang Penuh Kesan

www.travelingku.net
Perjalanan ini masih tentang cerita masa-masa honeymoon ya, maklum pengantin baru. Kala itu malam Minggu di Jogja, awalnya bingung mau ngapain, jadi kami putuskan untuk ke Malioboro, biar kayak orang-orang gitu. Malam Minggu macet dan ramai, terlebih lagi ada beberapa ruas jalan di Maliboro yang sedang dipugar.

Sambil menyusuri jalan, kami coba mencari santapan untuk mengisi perut. Terlihat penjual aneka makanan sangat ramai. kami berhenti di warung pinggir jalan untuk makan malam. Dengan menu nasi gudeg dan tempe goreng, kami cukup lahap memakannya, bukan karena rasanya yang enak banget, tetapi kami yang sedang kelaparan. Jadi ya, apa saja bisa masuk ke perut, andai saja beling-beling bisa dimakan, kami pun makan juga. Hahahaha, just kidding :D

Saking lahapnya, kami sampai lupa tidak memfoto makanan kami. Tapi ada baiknya juga, karena rasanya memang kurang enak. Manisnya terlalu, mungkin ini karena lidah saya yang belum terbiasa ya, jadi agak merasa aneh. Selain itu, bumbunya kurang nendang (kalau ini pasti kesalahan lidah saya, karena biasanya kami traveling itu makannya nasi padang). Padahal ya, orang-orang yang di dekat kami makannya enak banget. Sangat menikmati hidangan yang ada dan menu sama. Ya sudah, kemungkinan terbesar lidah kami, terutama saya yang sangat-sangat embuh. Tapi enggak apa-apa lah ya, nasi gudeg ini cukup mengganjal perut yang sudah discoan, bukan hanya keroncongan saja. Untuk air minum kami beli bawa sendiri yang pas dari hotel, kami mampir ke salah satu swalayan.

www.travelingku.net
Norak dikit gpp lah ya :D

Setelah selesai makan, kami menghampiri penjualnya untuk membayar apa saja yang kita makan. Cukup kaget juga dengan harga yang dilontarkannya. Pasalnya hanya dua nasi gudeg dan dua tempe goreng dibandrol Rp 46.000,00. Okay lah, fix, mungkin harga standardnya begitu karena di tempat keramaian. Telebih kami sedang kelaparan dan sedang malas untuk mencari tempat makan yang recomended.

Kemudian kami melanjutkan jalan kaki dan menikmati malam di titik 0 Kilometer Yogyakarta. Pinginnya sih kayak orang-orang gitu, duduk-duduk di kursi pinggir jalan Malioboro, terus upload ke instagram. Eh, ternyata momen kami kurang beruntung. Selain banyak material yang cukup berserakan, wisatawan pun sedang membludag (aslinya Jogja memang setiap hari ramai). Ya sudah, kami hanya duduk sambil melihat sliwernya lalu lintas yang sangat padat.

www.travelingku.net
Biar nampak pengantin baru :D

Puas melihat lalu lintas, kami geser ke depan benteng Vredeburg dan duduk-duduk santai. Sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, Pak Suami inisiatif menghubungi adiknya yang kerja di Jogja. Untuk membunuh waktu menunggu dia datang, kami nyicipin jagung bakar. Itung-itung biar enggak terlalu bosan menunggu. Dan akhirnya, jagung bakar habis, adik sampai juga. Oh ya, dia bernama Usman.

Dia mengajak kami ke Patung Tugu yang ramai dan yang katanya ngehitss kalau di malam hari. Dan ya, memang ramai banget, beruntung bisa ambil foto-foto juga di sini meski harus antri terlebih dahulu. Foto-foto sudah puas, berbincang-bincang sambil jalan-jalan sekeliling tugu juga sudah, ternyata kami lapar lagi. Beruntungnya Usman mau mengajak makan di warung lesehan dekat sungai. Tapi sayangnya, saya lupa apa nama sungai tersebut, yang jelas seberangnya ada gedung hotel. Sepanjang jalan di pinggir jalan itu banyak orang-orang yang berjualan makanan dan minuman baik makanan berat/camilan.

www.travelingku.net
Menunggu foto di sini itu lamanyaaaa

Berhubung lapar, saya pesan nasi goreng, lemon tea hangat dan camilan roti bakar (enggak usah dibayangkan makan nasi goreng terus camilannya roti bakar). Kalau suami pesan mie goreng, lemon tea hangat dan kentang goreng. Sedangkan Usman hanya memesan mie goreng dan es teh.


Enggak tahu mengapa ya, hanya sedikit jalan-jalan saya mudah kelaparan, kan jadi lupa lagi mau memfoto makanan. Setelah makanan saya habis, saya juga mengganggu makanan suami. Iya, saya juga ikut nimbrung makan kentang gorengnya. Entahlah, mungkin masa proses pertumbuhan menuju emak-emak (jadi gemuk) wkwkwkwkwk.

Makan di pinggir jalan, terus di bawahnya itu ada sungai, seberang jauh sana ada perumahan dengan lampu yang kerlap kerlip. Rasanya memang syahdu, sampai enggak kerasa kalau makanan kami sudah ludes des, mau nambah tapi malu. Jadi ya sudah, kami segera bayar. Dan harganya berbanding terbalik dengan nasi gudeg yang tadi. Ini sangat luar biasa. Dari semua makanan yang kami pesan, hanya menghabiskan Rp 48.000,00. Super duper murah meriaaaaah....

www.travelingku.net
Foto wajib ketika berada di Jalan Malioboro

Pagi-pagi diawali dengan ribut mencari sarapan, setelah muter-muter keliling perumahan, kami belum nemu juga. Akhirnya dengan lelah, kami menemukan gang yang terdapat orang jualan makanan. Ternyata Warung Ayam Geprek Bu Rum. Langsung kami pesan dan makan di situ. Setelah selesai, kami cap cus ke Malioboro lagi. Ceritanya biar kekinian, foto-foto di jalan gitu, terus tak lupa juga foto duduk di kursi pinggir jalan. Ya, meksipun bukan malam hari, yang penting rasa penasaran sudah terbayar. Namun, perjalanan kami di Maliboro belum berakhir, kami mencari penjual bakpia. Jalan kaki entah berapa ratus meter ke tempat pusat penjualan bakpia pathok 25. Asyiknya di sini ada testernya. Udah gitu, bakpianya masih fresh from the oven, bahkan bukan cuma anget, tapi panas.

www.travelingku.net
Kalau sudah foto di sini berarti sudah kekinian, hahahaha

Giliran mau balik ke parkiran, kami bingung. Mau jalan lagi enggak mungkin deh kaki dah pegel-pegel banget. Jadi kami naik becak menuju parkiran. For your information ya, Guys... tempat parkir di Malioboro sekarang tertata rapi. Berada di ujung utara seberang jalan Malioboro. Kendaran roda dua ada di atas, sedangkan roda empat ada di bawah. Dan dengan sisa-sisa tenaga, kami naik tangga untuk mengambil motor. Yang akhirnya kami langsung menuju Magelang.

Hallo, Borobudur, I’m Coming.... perjalanan pun penuh warna, sempat nyasar dan lain sebagainya. Bahkan sampai masuk ke kompleks Universitas Gajah Mada. Hahahaha.. niat banget kan. Itulah cerita perjalanan absurd kami, kalau kalian bagaimana?

Pesona Surga yang Tersembunyi dari Bukit Mertelu

www.travelingku.net
Bukit Mertelu
Assalamu'alaikum wr wb....

Selamat berakhir pekan, teman-teman. Adakah rencana jalan-jalan untuk sekedar membuang penat atau untuk menikmati keindahan alam bumi Indonesia yang tercinta ini? Karena sudah menjadi rahasia umum ya, bahwa Indonesia merupakan tanah surga yang memiliki kesuburan, keindahan dengan segala bentuk perbedaan yang tersaji menjadi dalam sebuah nusantara yang terbentang luas.

Berbicara tentang keindahan alam di setiap sudut pasti ada. Bahkan masih banyak surga yang tersembunyi di negeri ini. Seperti halnya perjalanan yang baru saja saya lakukan. Letaknya tidak jauh dari desa tempat tinggal saya karena memang ini masih dalam satu wilayah kecamatan. Bisa dikatakan tetangga desa. Saya baru menyadari bahwa ada tempat wisata yang benar-benar ikonik dan sangat memesona.


Karena masih tetangga desa, saya menuju lokasi melewati jalur terobosan alias jalur alternatif. Lebih cepat sampai dan memangkas jarak ketika dibandingkan melalui jalur utama (jalan raya).

Ngomong-ngomong dari tadi bahas lokasi, memang mau ke mana?

Jadi begini loh, saya dan Pak Suami, ceritanya sedang refreshing biar otak kembali segar setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan. Inginnya sih ke pantai, cuma jauh, jadi kami putuskan untuk ke Bukit Mertelu yang terletak di Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi pilihan kami, selain dekat, kami juga penasaran ada apa sebenarnya di Bukit Mertelu tersebut.

www.erycorners.com
Di beberapa titik ada tempat untuk istirahat sejenak

Setelah sampai di lokasi tempat parkir, kami harus jalan kaki dengan jalan yang cukup menanjak. Jaraknya sekitar 1 - 2 km. Yaa, hitung-hitung sambil olah raga begitu. Jalan yang kami daki pun menyuguhkan pemandangan yang cukup menawan. Udara yang sejuk dan segar membuat kami semakin semangat untuk menuju Bukit Mertelu.


www.travelingku.net
Di perjalanan meunuju puncak juga ada taman kecilnya


Di situ terpampang jelas tentang Sapta Pesona yang memang harus ada di setiap lokasi wisata. Ditambah ada beberapa peraturan yang harus ditaati oleh pengunjung, salah satunya adalah ketika turun hujan, seluruh pengunjung wajib turun dari Bukit Mertelu. Hal ini tentunya untuk menjaga keselamatan seluruh pengunjung.

Di sepanjang yang kurang lebih 2 km ini, ada beberapa spot untuk berselfie atau hanya sekedar duduk-duduk santai dan beristirahat. Seperti halnya yang kami lakukan ini.

www.travelingku.net
Bisa juga main ayunan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan


Bahkan, ada juga nih, tempat duduk, sekaligus tempat buat foto-foto, ibarat sarang burung namun luas dan mampu untuk kita bersandar sejenak. Ketika langkah ini belum sampai jua, ternyata masih ada sajian-sajian menawan dari jalan ke Bukit Mertelu.

www.erycorners.com
Katanya sih ini sudah deket dengan puncak. Benarkah itu?

Dengan penuh keceriaan kami melangkah yang akhirnya membawa ke sebuah tempat di mana mata ini disuguhkan dengan pemandangan yang ciamik. Aduhai sekali indahnya.

www.travelingku.net
Kalau ini fix udah deket dengan puncak

Setelah memakan waktu dua puluh menitan, akhirnya kami sampai juga di Puncak Bukit Mertelu. Pesona alam yang apik itu sungguh benar-benar memanjakan mata setiap pengunjung. Tak heran, setiap hari selalu ramai dikunjungi. Setiap harinya sedikitnya dua ratus wisatawan datang. Mereka yang datang juga bukan hanya dari daerah sekitar melainkan dari luar Kabupaten Purbalingga seperti Banyumas, Tegal, Brebes dan Pekalongan. Meski perlu perjuangan terlebih dahulu karena berlajan kaki melewati jalan setapak, tapi semua itu lunas terbayarkan dengan sesuatu yang sangat indah bak surga.

www.travelingku.net
Sampai juga di puncak

Dari ketinggian yang melebihi 900 meter di atas permukaan laut, tentunya tempat ini sangat cocok untuk menghadirkan spot selfie dengan tema alam. Melihat hamparan luas dari hijaunya hutan belantara. Mengingatkan pada kita, bahwa diri ini sungguhlah kecil dibandingkan dengan alam yang begitu luas dan elok ini. Mengajarkan pada kita juga, bahwa alam yang indah ini harus tetap terjaga dan lestari, bukan untuk dirusak. Biarkan keelokan itu terus ada hingga nanti, karena ini merupakan salah satu Surga Alam Indonesia yang masih tersembunyi.

Baca juga : Desa Panusupan, Tempatnya Surga Alam Indonesia

Tempat untuk menikmati Bukit Mertelu juga bukan hanya itu saja, tetapi ada sebuah ayunan yang bisa kita gunakan. Ini merupakan salah satu spot favorit bagi pengunjung. Karena apa? Sambil berayun-ayun layaknya di atas awan, terus diambil foto, tentunya sangat menarik dan eksotis. Berlatar sebuah perbukitan hijau, sambil tersenyum menaiki sebuah ayunan. Rasa bahagia dan puas pun ada di dalam hati.

Pose favorit

Hadirnya wisata baru di Bukit Mertelu ini, menambah tujuan wisatawan untuk menikmati keindahan yang ada di Purbalingga. Juga merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya, karena Bukit Mertelu masih satu daerah dengan saya, yakni sama-sama beralamatkan di Kecamatan Mrebet. Selain itu, masih banyak alasan mengapa saya bangga dan merekomendasikan Bukit Mertelu menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi, di antaranya :

1. Harga tiket yang super murah
Tiket masuk hanya dikenai biaya Rp 5.000 per orang, tiket parkir cuma Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda 4. Dan bagi yang ingin menikmati ayunan langit, cukup membayar tambahan Rp 5.000; sangat murah kan?

2. Adanya ayunan langit
Ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ayunan langit, rasanya memang rada deg-deg ser gimana gitu ya? Tapi tenang saja, karena sudah ada perlengkapan safety yang mendukung. Jadi siapa saja bisa menikmati ayunan langit dengan tenang dan aman.

3. Panorama alam yang menawan
Pemandangan yang menakjubkan hadir di sini. Kita juga bisa menikmati indahnya hamparan alam yang sangat eksotis.

Nah itu beberapa alasan mengapa perlu berkunjung ke Bukit Mertelu. Untuk berkunjung ke sini memang perlu energi, karena harus mendaki melalui jalan sempit. Untuk itu, saya bagi tips sedikit nih bagi teman-teman yang mau main ke sini.

  • Tentu saja hal yang utama adalah Doa agar kita selalu selamat

  • Jangan lupa sarapan agar stamina mendaki itu full

  • Bawa bekal secukupnya, bagi yang mudah haus jangan lupa bawa minum lebih

  • Gunakan pakaian yang nyaman untuk tracking jalan yang menanjak

  • Gunakan sepatu atau sandal yang nyaman (bukan tipe high melainkan cats atau sandal pendaki)

  • Kalau perlu bawa perlengkapan P3K sederhana seperti minyak kayu putih dan plester

  • Tambahan lagi nih, biar foto-foto yang dihasilkan okay punya, teman-teman datangnya pas hari cerah atau jam 11 siang. Itu merupakan saran dari pengelola tempat wisatanya. Jangan kayak kami ya, yang jam 9 pagi sudah sampai, jadi kabut masih tebal. Hehehe
www.travelingku.net
Pas kami datang itu kabut pas lagi tebel-tebelnya

Untuk rute menuju ke Bukit Mertelu, saya bagikan dari pusat kota Purbalingga ya. Dari arah kota Purbalingga menuju ke utara (arah Bobotsari), hingga sampai di pertigaan Selaganggeng. Kemudian ambil kiri yang rute menuju Desa Wisata Serang. Lurus hingga sampai di Desa Sangkanayu yang hampir perbatasan dengan Desa Serang, ada pertigaan kecil dengan plang bertuliskan 'Wisata Alam Bukit Mertelu'. Ambil kanan mengikuti jalan sampai mentok ke lokasi Parkir.

Baca juga : Kampung Warna Bobotsari, Wisata Murah Meriah yang Full Colour

Itulah tentang perjalanan kami untuk mengeksplor alam yang ada di daerah kami sendiri. Kalian patut untuk berkunjung ke sini, dijamin tidak akan menyesal. Semoga bermanfaat, terima kasih sudah membacanya, dan Wassalamu'alaikum wr wb.

Menikmati Sensasi Pedas dan Gurih Ayam Geprek Bu Rum

www.travelingku.net
Ayam Geprek Bu Rum

Pagi hari setelah check out, kami mencari sarapan. Inginnya sih makan nasi pecel atau sesuatu yang khas di Jogja, namun berhubung enggak tahu tempatnya dan enggak ada waktu untuk mencari, jadi kami makan senemunya tempat makan di jalan. Pas keluar dari penginapan Airy Rooms di Jalan Ori II, melewati beberapa blok perumahan. Nah, pas mau keluar dari komplek tersebut, kami menemukan warung makan yang sederhana. Ciyus Guys.. ini sederhana banget.

Lokasinya saja di pinggir jalan (semua tempat ya di pinggir jalan lah ya), maksudnya begini, bukan rumah makan yang gede atau kedai-kedai gitu, melainkan tempat makan dengan warung tenda yang hanya ditutupi banner dan tirai bambu sebagai penutup ruangan. Bahkan tempat ini menempel tembok sebuah rumah di komplek tersebut. Tempat duduknya pun sangat sederhana, hanya bangku panjang empat buah dengan dua meja panjang.

www.travelingku.net
Tempat duduknya memang sangat sederhana

Tanpa pikir panjang lagi, kami berdua memesan makanan. Berhubung kami belum tahu, jadi saya menunggu, tapi melihat pelanggan yang berdatangan mereka mengambil nasinya sendiri. “Oh begitu,” pikir saya. Jadi saya pun ikutan mengambil nasi sendiri dengan tahu dan tempe goreng. Tak lupa juga saya ambilkan untuk suami (ceritanya jadi istri baik, kekekekeke). Dan yang belum datang tentu lauk utamanya yaitu Ayam Geprek. Karena memag ayamnya digoreng terlebih dahulu, kemudian digeprek dengan cabai (selera pelanggan) jadi perlu antri.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya ayam yang ditunggu-tunggu datang juga. Jadi, menu kai adalah nasi hangat, ayam geprek dan tahu goreng. Di meja juga tersedia kecap serta sendok dan garpu. Pelanggan yang makan di situ ambil sesuai selera deh pokoknya. Kayak di rumah sendiri gitu. Pas nyicipin ayamnya itu rasanya langsung cetar di lidah pedasnya. Mungkin karena saya yang enggak doyan pedes ya, cabai satu saja sudah kelabakan merasa kepedasan, sedangkan suami yang pakai cabai lima, ekspresinya biasa saja. Untung saja kami memesan teh anget yang bisa langsung diminum untuk menghilangkan pedasnya. 

www.travelingku.net
Okay, pesanan datang

Sensasi rasa perpaduan pedas, manis dan gurih itu menjadi luar biasa di lidah. Semakin membuat lahap kami yang sedang kelaparan. Kalau enggak malu, sumpah dah nambah porsi lagi. Cuma agak gimana gitu, aku kan cewek masa makannya porsi kuli :( sedangkan orang-orang yang berdatangan ambil nasinya sedikit-sedikit (kayaknya cuma saya nih yang ambil nasinya wow banget) hahahahaa.

Ayam geprek ini sangat cocok bagi yang doyan pedes. Selain gurih, aroma dan rasa bawangnya kerasa banget. Jadi ada rasa segarnya gitu, bikin ketagihan terus. Selain itu, di warung makan ini juga menyediakan sayuran, jadi kalau yang enggak pesan nasi sama ayam, sah-sah saja. Karena bisa makan nasi dan menu sayur yang telah tersedia, bahkan pada saat kami makan di sana, ada semacam sop. Komplit deh. Minumnya juga ada teh manis baik dingin atau hangat, bisa juga jeruk hangat atau dingin. Kalau yang ingin tawar juga bisa. Sesuai budget pelanggan lah ya..

www.travelingku.net
Berani level berapa? Kalau saya, cukup 1 aja dah bikin dower bibir


Setelah menghabiskan makanan dan minuman, hidung dan bibir saya enggak bisa berbohong kalau mengalami kepedasan. Tadinya sih mau menunggu beberapa saat untuk menghilangkan rasa pedasnya, tapi berhubung ada rencana ke Magelang, jadi kami cap cus. Pas saya bayar, kaget juga dengan harga yang dikasih tahu. Bayangkan saja, 2 porsi nasi, ayam gerpek, dan tahu goreng, serta 2 gelas teh hangat, kita cuma dikenakan Rp 28.000. Sekali lagi ya, hanya Rp 28.000. Murah meriah banget. Pantas saja pas kami di sana, pelanggan terus berdatangan sampai saya mau pergi dari tempat tersebut, orang-orang untuk menikmatinya terus ada.

Ternyata, Bu Rum itu pelopor Ayam Geprek sejak tahun 2003

Oh ya, dari tadi ngomongin tentang ayam dan lokasinya. Lupa belum kasih tahu nama warungnya. Ini adalah Warung Ayam Geprek Bu Rum I yang didirkan sejak tahun 2003. Bu Rum ini merupakan pelopor Ayam Geprek loh, pantesan ya rasanya endes banget maunya makan terus. Terus saat ini sudah ada beberapa cabangnya di kota-kota Jogja.

Dan akhirnya saya traveling ke luar kota enggak makan nasi padang ya, bisa makan menu lain yang rasanya super lezat. Enggak bikin kecewa lho Ayam Geprek Bu Rum ini. Buat teman-teman yang ke Jogja, cocok banget deh menikmati makanan ini.

Wayung Ayam Geprek Bu Rum I
Jalan Wulung Lor, Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman
Yogyakarta 55281