Hello, Guys, kali ini aku mau
cerita tentang perjalanan entah apa namanya, yang jelas rada sulit
dinalar oleh 'manusia biasa'. Jadi begini, tiga hari setelah menikah,
aku merengek-rengek ke suami pengen nyicipin minuman khas suatu
daerah. Berhubung rengekanku terus menerus, akhirnya hari berikutnya
kita berdua berangkat dengan mengendarai kendaraan roda dua. Dari
rumah memang pagi, jam delapan, tapi kita mampir dulu ke tempat
service motor karena mau melakukan perjalanan jauh, kan sayang
motornya kalau kenapa-kenapa (kalau orangnya yang kenapa si udah
biasa :D).
Nyampai bengkel motor ternyata antrinya
udah kayak ular naga, panjang banget. Duduk di bengkel rasanya udah
kayak nungguin apa gitu, sampai kita keluar buat beli jus dan
dilanjutkan menyusuri jalan Jenderal Sudirman Purbalingga dengan
jalan kaki untuk mencari aksesories hp Pak Suami. Yang akhirnya kita
kelelahan tanpa hasil apa-apa, jadi kita balik lagi ke bengkel. Cek
jam di tangan sudah menunjukan 10.15, dan motor kita belum selesai
diservice. Terpaksa nunggu sambil online memanfaatkan wifi gratis
yang tersedia di bengkel. Dan pukul 10.45 dipanggil kalau motornya
udah diservice.
Setelah keluar dari bengkel, suami
langsung nyeletuk, "Jam segini baru mau berangkat, nyampai sana
jam berapa?"
Udah kebayang, kita jalan-jalan yang akan
memakan waktu kurang lebih 3 jam.
Aku cuma jawab, "Hehehe, ya ayolah
segera berangkat,"
Akhirnya kita segera meluncur menuju
Purworejo. Sesuai dengan perkiraan, perjalanan ini memakan waktu
kurang lebih tiga jam. Daerah Purworejo yang kita singgahi belum
masuk wilayah kotanya, masih di daerah Butuh, tepatnya timur jembatan butuh.
Setelah melewati beberapa meter dari
jembatan, kita berhenti di sebuah 'gubuk' namun tak reot, tepatnya
malah kokoh, meski tak seperti rumah, tapi pas dan nyaman untuk tenda
berjualan.
Di dalamnya ada seorang laki-laki paruh
baya yang masih sehat. Dia dikerumuni banyak orang, termasuk kami
berdua. Kita semua rela mengantri demi semangkuk minuman khas
Purworejo, yang tak lain dan tak bukan Dawet Ireng (hitam). Disebut
Dawet Ireng karena dawetnya berwarna hitam yang terbuat dari beras
ketan hitam.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya
kita dapat dawetnya. Hmm, seger rasanya melepas dahaga setelah
melakukan perjalanan jauh dari Purbalingga demi menikmati semangkuk
dawet. (Kayaknya cuma kami berdua deh, yang rada gila begini,
jauh-jauh ke Purworejo cuma buat menikmati dawet). Lebih parah lagi,
kalau dibandingkan dengan bensin dan harga dawetnya. Bensin pulang
pergi kita isi Rp 20.000, sedangkan dawetnya hanya seharga Rp
5.000/mangkok. Super murah.
Lalu, apa istimewanya si, sampai
dibela-belain gitu?
Jadi gini, dawet ireng ini sudah sangat
melegeda, meski yang jual saat ini bukan pencetus asli, karena yang
jualan pertama sejak tahun 1939 sudah meninggal. Menurut bapak yang
jual, saat ini beliau adalah anaknya (kalau gak salah, kalau salah
mohon koreksi). Setiap hari berjualan di daerah Butuh, Purworejo.
Penggemarnya juga dari bermacam-macam daerah. Ya wajar saja, karena
rasanya memang segar, manisnya gula asli, bukan manis buatan, dan
dawetnya juga kenyal sedap. Tak heran, saat kami ke sana, banyak
sekali yang mengantri.
Abaikan bibir yang lagi manyun gitu, hahaha
Okay, itu cerita dari aku, semoga
bisa lebih aktif lagi dalam ngeblog dan bercerita tentang kekonyolan
tentang traveling dan menikmati kuliner, hihihi. :)































